Jawab


Melesatkan Potensi
Februari 2, 2010, 11:50 pm
Filed under: Uncategorized

Hidup adalah anugerah. Mengisinya dengan apa adalah pilihan.

Ada yang memilih memanfaatkannya. Ada yang menyia-nyiakannya. Dick Hoyt dan Judy Hoyt memilih yang pertama.

1962, anak mereka lahir. Lumpuh total. Para dokter mengatakan bahwa anak itu hanya akan bikin susah. Maka, masukkanlah ia ke sebuah yayasan. Untuk apa mengurusi anak yang lumpuh total, serta terbelakang secara mental?

Suami istri Hoyt berpandangan berbeda. Sebaliknya, mereka membawa Rick, anak mereka, ke rumah. Di North Reading, Rick dididik layaknya anak normal.

Mengangguk berarti ya. Menggeleng berarti tidak. Hanya itulah satu-satunya cara Rick berkomunikasi. Para pakar berkata bahwa Rick tak akan pernah bisa berbicara.

Keluarga Hoyt berpikiran berbeda. Mereka menyerahkan uang sebesar $5.000 ke Tufts University. Universitas ini sedang berusaha membuat alat komunikasi interaktif pertama. Dengan alat itu, orang seperti Rick akan mampu ”berbicara”. Ia tinggal menggeser secara elektronik barisan huruf dan angka serta membuat pilihan untuk membuat sebuah pesan yang utuh. Simpel.

Pada saat Rick berusia 12 tahun, alat itu siap diuji. Semua menanti dengan penuh gairah. Menanti kata pertama dari Rick. Dengan kepalanya, Rick menyentuh tombol elektronik, yang menggaungkan kalimat pertamanya,”Go Bruins!”. Bravo!!

Maka dimulailah petualangan Rick menjelajah dunia. Ia suka berolahraga. Maka, di punggung ayahnya, Rick mencoba banyak hal. Memancing, arung jeram, bahkan mendaki gunung. Hingga momen bersejarah itu datang.

Saat itu, Rick berusia 16 tahun. Ada sebuah lomba lari lima-mil. Diadakan untuk menolong seorang mahasiswa yang mengalami kecelakaan lalu lintas. Dengan alat komunikasinya, Rick berkata pada ayahnya, ”berlari”. Rick ingin turut berlari. Dick, sang ayah, terkejut. Dick berusia 40 tahun. Yang hanya berlari beberapa kali seminggu untuk menjaga berat badannya. Hampir tidak pernah betul-betul menjadi pelari. Sekarang, ia diminta untuk berlomba, dengan mendorong seorang pemuda di atas kursi roda? Tentu ia khawatir. Tapi…Rick teramat menginginkannya. Maka Dick menjawab,”Baik, kita akan mencobanya”.

Setelah lomba itu, Dick tak bisa bergerak hampir selama 2 minggu! Ketika sedang menikmati rendaman dalam Epsom salt, memulihkan otot-ototnya yang sakit, Rick datang dengan sebuah pesan. Pesan yang mengubah kehidupan mereka berdua. Selamanya. ”Ayah, ketika aku berlari, aku merasa tidak cacat lagi.”

Selama dua tahun berikutnya, Dick dan seorang insinyur merancang sebuah kursi khusus untuk bertanding. Sambil Rick dan Dick terus berlatih dan berlomba secara lokal, dengan kursi lama mereka.

Ketika kursi baru itu sudah selesai, mereka berdua siap mengikuti lomba yang resmi.
Lomba lari lima-mil di Springfield, Massachussetts.
Boston Marathon sepanjang 26,2 mil yang menguras tenaga.
Lomba Triathlon yang menggabungkan renang jarak jauh, bersepeda jarak jauh, dan lari lintas alam.
Lomba Ironman: berenang 2,4 mil, bersepeda 112 mil, berlari 26,2 mil. Di kepulauan Hawaii yang ’menantang’: panas 100 derajat, kelembaban yang tinggi, perbukitan yang berat.
Semuanya bisa mereka selesaikan. Lebih dari sekali. Kadang, sebagai juara.

Begitulah para pemenang melihat kehidupan. Mereka diberi apa, dari situlah lahir karya. Bahkan mahakarya.

Pemenang fokus pada hasil yang ingin dicapainya. Pemenang sibuk berpikir dan berupaya bagaimana mewujudkan cita. Pemenang bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan. Lalu bergegas bekerja. Ia memanfaatkan potensi, sejak dini.

Berbeda dengan pecundang.

Pecundang fokus pada masalah. Pecundang menyibukkan diri dengan mengecam hambatan yang menghadang. Sibuk mengeluhkan berbagai kondisi yang terjadi. Pecundang melihat masalah nyaris di setiap peluang yang datang. Ia meng-aborsi potensi, dari semenjak masih janin nan fitri.

Pertanyaan buat kita adalah: yang manakah kita? Mari kita merenungkannya…

Muhammad Fatan Fantastik
mf-fantastik@lycos.com



Bikin Belajar Selezat Coklat
Januari 19, 2010, 5:41 am
Filed under: Uncategorized

Belajar kok selezat cokelat? Apanya yang lezat? Yang namanya belajar, tuh: butuh baca semua buku meski mata udah nggak kuat, butuh bangun semalaman biar semua bahan ingat, butuh latihan semua soal meski abang bakso lewat, yang jelas, pasti terasa BERAAATT!! (apalagi dibandingi sama lalat…). kalo males, bakal kuwalat! Ngerjain pe-er telat? Bisa kena damprat! Belajar TERUS? MANA KUAAT!
Hehe…belum tahu dia! Yang namanya belajar itu bisa bikin kita keranjingan. Yang tadinya beban, malah bisa ketagihan. Yang dulunya memuakkan, sekarang jadi kesayangan. Yang dulunya bikin muntah, kali ini bikin hidup jadi indah. Males nggak sudi singgah; tiap hari pengenanya sekolah. Ya maklum aza, udah jatuh cinta! Belajar? Rasanya jadi lezat, kaya’ cokelat!!
So, buku ini hadir untuk ngebantu kamu yang pengena bikin belajar serasa menghirup udara segar. Biar belajar nggak bikin kamu terkapar, tapi malah bikin kamu asyik mojok di kamar. Jatuh cinta ama belajar? Ya, wajar! Habis, lezat cokelatnya serasa menggelegar! Duarrrr!!



Hello world!
Januari 19, 2010, 4:53 am
Filed under: Uncategorized

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!